Dilbuat pada: 30-05-2017
Diterbitkan pada: 01-07-2017 
Ditulis oleh: Teresa Cancola
Fotografer: Teresa Cancola

Sebuah tempat untuk piknik

Bandres dan kemungkinan yang dia lihat di bidang pariwisata

Pada tanggal 30 Mei 2017 sebuah pintu baru terbuka bagi kami untuk mendapatkan wawasan tentang kehidupan seorang remaja laki-laki yang tinggal di Kaibobo. Kami penasaran dengan kemana perjalanan kami akan membawa kami kali ini dan kami semua menanti dengan saksama mendengarkan perspektif yang berbeda - perspektif Bandres Manuputi.

 

Bandres adalah anak laki-laki berusia 16 tahun yang tinggal bersama orang tua dan neneknya di sisi kanan jalan utama di Kaibobo. Kakak perempuan Bandres berusia 18 tahun tapi dia tinggal di Papua untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Kami sudah menjumpai banyak anak-anak yang lincah dan bersemangat. Bandres adalah remaja  yang suka berdiam diri meski memiliki impian tersendiri yang istimewa dalam hidupnya. Mimpi dan hobi, sudah sering kita dengar di Kaibobo tapi kami tertarik untuk mendengarnya dari seorang anak muda secara langsung.

 

Bandres sedang menempuh sekolah menengah pertama di Kaibobo. Ia dengan senang hati hadir di kelas karena ia memiliki kesempatan untuk belajar dan berpendidikan. Bertemu temannya di sana, menghabiskan waktu bersama-sama, berinteraksi dengan cara lain selain bermain tapi dengan mendapatkan wawasan tentang tingkat yang lebih tinggi - belajar tentang budaya Indonesia misalnya, atau melakukan olahraga bersama teman-temannya dengan dikelilingi oleh pemandangan yang indah. Yang sangat disayangkan adalah kurangnya pelajaran tentang budaya lain, tentang dunia, untuk mengetahui apa yang ada diluar sana. Bahasa Inggris adalah salah satu mata pelajaran yang tidak dia sukai. Hal ini dikarenakan menurutnya tidak ada kesempatan untuk mempraktikkannya mengingat tidak ada turis di Kaibobo yang bisa berinteraksi dengannya. Satu-satunya bahasa yang dia sukai adalah Bahasa dan bahasa Kaibobo tradisional. Untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik dan untuk meningkatkan kesadarannya akan budaya lain, biarpun hanya budaya Indonesia, dia benar-benar ingin pergi ke Wasarisa, sebuah desa yang lebih besar dengan Lebih banyak kesempatan yang terletak didekat Kaibobo. Tapi Wasarisa seharusnya tidak menjadi perhentian terakhirnya. Keinginan terbesarnya adalah menjadi polisi di Ambon. Seorang polisi karena dengan pekerjaan ini dia melihat kemungkinan untuk melindungi masyarakat dan orang tercintanya. Disamping itu, sesuatu yang dia sukai dan hal yang dia sangat bersemangat lakukan adalah menari.

 

Kaibobo adalah sebuah desa yang penuh dengan seniman. Seniman yang membuat benda terbaik dari semua hal sederhana yang disediakan oleh alam. Seniman seperti pelukis, tukang kayu, penyanyi atau penari. Bandres selalu mendapat panggilan untuk menari. Menari karena inilah yang membuatnya bahagia. Hobi ini dia miliki sejak ia berusia sekitar enam tahun. Bersama remaja dan anak-anak lain dari Kaibobo, mereka berlatih bersama dengan Bastian. Lima kali setahun mereka tampil di Kaibobo, di Piru atau bahkan di Ambon. Meskipun begitu, Bandres tidak banyak bicara karena dia tidak terbiasa berbicara dengan orang asing. Cara dia bercerita tentang menari dengan penuh semangat serta senyuman yang terukir diwajahnya saat bercerita membuatnya terlihat mengagumkan.

 

“Maukah kamu menyerah akan mimpimu menjadi polisi dan tetap tinggal di Kaibobo dan terus menari? "

 

- "Tidak! Saya akan selalu memilih  untuk menjadi pelindung bagi orang lain untuk membuat hidup menjadi lebih baik. Satu-satunya tugas saya seharusnya hanya menjadi polisi. "

 

Saya perhatikan, bahwa meskipun Bandres senang tinggal di Kaibobo bersama keluarganya dan semua temannya, semangatnya dan kepedulian terhadap desanya, dia sangat ingin keluar dan melihat dunia berbeda diluar sana. Untuk mengenal budaya dan negara lain seperti Argentina, Jerman, dan Prancis. Tapi satu-satunya pilihan yang dia lihat adalah Ambon, ibu kota provinsi Maluku. Mungkin tempat dimana dia bisa lebih banyak mengenal orang asing atau turis untuk belajar dari mereka. Sangat menarik dan menginspirasi melihat betapa bahagianya dia saat berbicara tentang turis. Tapi sejauh ini, kami - Tim Wonderful Kaibobo - adalah satu-satunya turis yang pernah jumpai dalam hidupnya.

"Bandres, tahukah anda apa itu pariwisata?"

 

- "Ya, itu adalah tempat piknik. Tempat Anda pergi memancing dan berenang bersama. "

"Dan dari skala 1 sampai 10, seberapa bahagia anda saat ini?”

- "10! Karena saya masih bisa menari dan bermain dengan teman-teman saya. Satu-satunya harapan saya saat ini adalah anda (tim Wonderful Maluku Project) bisa berkolaborasi dengan pemerintah untuk membawa pariwisata ke Kaibobo, jadi kita semua bisa piknik bersama. "