Sejarah Kaibobo

Kaibobo, yang disebut Hena Poput dalam bahasa Kaibobo tradisional, terbentuk
sekitar 200 tahun sebelum masehi. Sejak saat itu, desa dan penghuninya
tinggal dan terisolasi dari seluruh dunia.
Mereka berperang, dan jugamendapatkan pengaruh dari luar negeri
sehingga agama pun mulai masuk. Semua ini menciptakan ikatan yang
solid antara
Penduduk desa .

Jika anda berjalan menyusuri jalan utama menuju dermaga,
anda dapat melihat rumah bercat kuning di sebelah kanan demaga.
Diebelakang rumah tersebut terdapat batu besar yang hampir
tertutupi pepohonan hijau. Batu itu sendiri telah ada jauh sebelum
desa Kaibobo terbentuk. Selain menciptakan keunikan tersendiri untuk
alam kaubobo, batu tersebut juga dikenal merupakan tempat tinggal para
‘penunggu’ desa. Jiwa mereka hidup disana ssetelah mereka meninggal.
Saat ini (menurut sumber) mereka juga  berada di setiap perempatan
jalan yang dikenal dengan sebutan empat pintu.

Keempat pintu, di mana anda dapat masuk dan keluar dari desa.
Yang satu adalah laut, satu jalan, dan yang lainnya adalah rumah
sang Imam Dan gereja tua. Untuk melewati keempat pintu ini, anda
biasanya harus bertanya atau meminta izin kepada si ‘penunggu’.

 

Namun jangan khawatir, William Mattinahoruw, sudah mengatur semuanya untuk anda. William, yang dikaruniai kemampuan untuk berbicara dengan para ‘penunggu’ telah berbicara mengenai kedatangan anda. Jadi sekarang atau di masa depan, saat anda masuk Desa, para ‘penunggu’ akan menjagamu dan melindungimu dengan berbagai cara apapun.
 

“Nenek moyang dapat dilihat melalui lensa kamera foto. Mungkin Anda akan melihatnya nanti di salah satu foto Anda. "

- William Mattinahoruw

Namun, sudah bnayak orang-orang yang masuk desa tanpa izin. Orang-orang Arab sekitar tahun 1300 dan Portugis pada tahun 1512. Yang terakhir ini membawa kepercayaan Katolik Roma dan tinggal di desa sampai akhir abad ke-16. Ini membuka jalan bagi perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) yang mulai membeli produk dari penduduk desa seperti pala pada tahun 1602.  Belanda juga menerapkan protestantisme (1645). Sepanjang masa penjajahan ini, hubungan mereka tetap bersahabat. Terdapat masa dimana angin membawa virus yang tidak diketahui asalnya dimasa perang dunia pertama. Virus yang membunuh sebagian warga desa.

Ketika Belanda dipaksa untuk pergi pada tahun 1941, hubungan antara penduduk desa dan penjajah Jepangnya tidak sama. Yang terakhir disebutkan, mereka memperlakukan penduduk desa dengan tidak hormat: mereka menuntut orang-orang tersebut untuk membangun sebuah jalan menuju Piru dan para wanita dipaksa untuk menanam di perkebunan di sekitar desa. Saat itu, warga Kaibobo juga sedang berperang dengan sembilan desa lainnya. Perang yang sudah berlangsung lebih dari seratus tahun. Sembilan desa lainnya sangat merasa bahwa masyarakat Kaibobo telah melanggar perjanjian mereka karena mereka tidak memiliki kepercayaan yang sama dengan sembilan desa lainnya: dinamisme atau animisme. Meski begitu, Kaibobo dan penduduk desa tetap bertahan.

Perang ini tidak menghapus ikatan kuat antara rakyat. Begitu pula virus atau kolonisasi oleh Portugis, Belanda atau Jepang. Mereka mengalami pertumpahan darah bersama-sama. Mereka juga mengalami masa damai bersama. Mereka tinggal di tempat yang  terisolasi bersama. Mereka telah melindungi wilayah leluhur mereka bersama-sama. Tapi yang paling penting, mereka telah melindungi budaya tradisional mereka bersama-sama sampai saat ini. Semua perpaduan  ini membuat mereka, sejak lama, sekuat batu yang sangat besar itu. Sebuah batu yang melambangkan persaudaraan, solidness dan kesetiaan antara semua keluarga di Kaibobo.

Kaibobo

William Mattinahoruw