Ch. Seipattiratu

Dilbuat pada: 03-06-2017
Diterbitkan pada: 30-06-2017 
Ditulis oleh: Ingrid Bremmers
Fotografer: Teresa Cancola

"Pemerintah dan warga desa siap untuk berubah dan diubah."

Raja desa. Bapa Raja. Seorang pria yang saat dia tersenyum padamu, memberi anda perasaan percaya. Perasaan yang dia berikan kepada kami setiap kali kami bertemu dengannya atau saat dia mengatakan 'selamat pagi' kepada kami. Namanya, Ch. Seipattiratu. Tiga puluh tiga tahun dan lahir dan dibesarkan di Kaibobo. Ketika dia masih muda, dia tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi Raja desa. Dia sebenarnya ingin menjadi pengacara. Ia tidak menyadari keinginannya ini saat menempuh pendidikan di bidang pertanian di Ambon. Dimana dia lulus pada 2009 sebelum kembali ke Kaibobo. Kaibobo saat itu memang memiliki Bapa Raja, tapi Bapa Raja yang tak pernah menetap disana. Jadi saat Seipattiratu kembali ke desa setelah studi, dia merasa perlu melakukan sesuatu.

 Pada tahun 2011 dia terpilih. Tapi tidak ada peresmian sampai 2014 karena kepala Kabupaten Maluku tidak punya waktu. Dan mengapa dia terpilih menurut dia? Karena dia masih belia dan dia bisa banyak berkontribusi untuk warga desa. Ia juga terpilih karena ia memiliki pengalaman sebagai aktivis, ia pernah bekerja di sebuah organisasi dan ia dibesarkan di desa. Dibesarkan di desa merupakan keharusan bagi seseorang untuk menjadi Raja desa.

Ketika kami bertanya apakah dia melihat ada perubahan di desa, dia tersenyum. Sepertinya dia bangga dengan dirinya sendiri. Bangga dengan apa yang telah diraihnya. Ekspresi wajahnya berubah sangat cepat saat dia tahu kami menginginkan jawaban yang serius. Setelah itu dia menyimpulkan empat alasan mengapa baginya desa tersebut berubah sejak dia berkuasa. Pertama, karakteristik penduduk desa telah berubah. Mereka tidak lagi mabuk dan musik keras pada malam hari hampir tidak pernah terdengar lagi. Kedua, struktur desa telah berubah. Ada pagar dan binatang tidak lagi mengahalangi jalanan. Meski begitu, saat kita berjalan keliling desa kita harus berhenti di persimpangan, kita harus melihat kedua arah sebelum menyeberang. Kalau tidak, kita bisa saja menabrak seekor ayam atau babi. Salah satu alasan yang membuat hidup di Kaibobo indah karena itu adalah sesuatu yang sangat unik bagi kami. Sesuatu yang membuat gaya hidup semakin menarik dan indah untuk dikunjungi. Ketiga, karakteristik tradisional berubah. Bahasa Kaibobo mulai kembali lagi dan mereka mulai memperhatikan tradisi lainnya lagi. Maksudnya tentang tarian dan nyanyian yang bisa ditemukan di video (lihat link di situs ini).

Dan yang tak kalah pentingnya, program dengan pikiran terbuka benar-benar membantu di desa. Setelah berabad-abad terisolasi, "pemerintah dan penduduk desa siap untuk berubah dan diubah". Suatu saat perkembangan akan datang. Sesuatu yang sudah dimulai dengan dibuatnya akses jalan setelah tujuh puluh dua tahun kemerdekaan Indonesia. "Mereka (penduduk desa) sedang mengalami kebebasan". Perasaan kebebasan untuk penduduk desa ini membuat kebahagiaannya berada di angka sepuluh dalam skala satu sampai sepuluh.