Bobby Kuhuwael

Dilbuat pada: 23-05-2017
Diterbitkan pada: 30-06-2017 
Ditulis oleh: Ingrid Bremmers
Fotografer: Teresa Cancola

“Di hidup, kita semua ingin mencari kebahagiaan. Namun apapun yang kita temukan, itu tidak akan pernah cukup”.”

Begitu sampai di desa, kami berpikir bahwa rumah kuning di bawah batu besar pinggir lautan adalah rumah  tercantik di desa. Rumah yang terletak tepat di sebelah lautan memberi kami perasaan seperti kami sampai di salah satu tempat di  foto yang biasa berada di kartu pos. Ya, begitulah adanya, sebuah kartu pos. Kartu pos yang akan memberi anda rasa memiliki. Seperti membuat anda merasa berada di rumah.

 

Kali ini, kami pergi berempat. Tak seorang pun dari pemerintah bergabung dengan kami. Begitu kami melepas sepatunya di depan teras, perlahan kami berjalan ke pintu. "Permisi, permisi. Bapa? "Ketika tidak ada yang menjawab, kami melangkah masuk ke dalam rumah dan di sanalah dia berada. Wajahnya serius tapi bersahabat, matanya penasaran tapi nyaman. Dia memberi kami izin untuk duduk di ruang tamu saat dia berada tepat di sebelah pintu. Seperti biasa, Cici mulai mengenalkan topik dan project kami, dan kemudian kami mengenalkan diri. Seperti apa yang (hampir) selalu kami lakukan. "Hai, saya Ingrid dari Belanda." "Hai, saya Teresa dari Austria." "Hai, saya Tessa. Juga dari Belanda". Begitu pengenalan selesai, kami mengajukan pertanyaan pertama kami tentang keluarganya. Dan tentu saja, kami tidak bisa melupakan pembicaraan tentang rumah kuning itu. Rumah kuning, tempat dia dan keluarganya tinggal selama empat tahun. Sebelum itu ia tinggal di tempat lain di Kaibobo. Desa tempat ia dilahirkan tapi ia harus meninggalkannya selama perang antara tahun 1999 dan 2001. Ia pergi ke Ambon. Selama berada disana dia belajar bagaimana cara memancing sejak dia bekerja di sebuah kapal besar. Namun, ia merasa tidak nyaman bekerja disitu karena melibatkan terlalu banyak pekerjaan fisiknya.

 

Ketika kembali ke Kaibobo ia ingin mengembangkan dirinya dan desa tersebut. Dia melihat potensi di memancing. Dia mulai bekerja di sebuah kapal kecil dan menggunakan semua pengalamannya yang dia dapatkan ketika di Ambon. Sejak saat itu bisnisnya berkembang pesat. Dia telah mempekerjakan enam belas orang dan memasarkan ikannya ke pasar Waisarisa dan Ambon. Yang terakhir, dia pergi enam hari seminggu untuk menjualnya ke perantara. Selain memiliki usaha ini, ia juga berkebun dan menanam pohon kelapa, Cengkeh dan Pala. Saat dia berbicara tentang perkembangan kedua bisnisnya, dia sangat bergairah dan emosional. "Ya, saya memberikan nilai sepuluh untuk kebahagiaan saya. Kenapa? Karena saya merasa diberkati setiap saat."