Christi Louhatapessy

Dilbuat pada: 30-05-2017
Diterbitkan pada: 30-06-2017 
Ditulis oleh: Ingrid Bremmers
Fotografer: Teresa Cancola

“Saya berharap, suatu hari nanti saya bisa menjadi guru bahasa inggris di Kaibobo.”

Empat orang. Satu payung bersama miliaran tetes hujan. Ya, itu merupakan salah satu hari kami di Kaibobo. Anak-anak bermain di luar dalam hujan dan orang-orang dewasa berada di dalam rumah mereka. Salah satu anak yang bermain di luar adalah seorang gadis. Seorang gadis berusia sepuluh tahun dengan sebuah cerita. Seorang gadis yang pintar dan penuh mimpi. Seorang gadis jika dilihat dari luar, namun sesosok wanita dari dalam. Kami bertemu dengannya pagi-pagi sekali saat kami berjalan di jalan pergi melihat pemandangan yang indah. Hari itu kami tahu dia bisa berbahasa Inggris dengan baik. Jadi ya, kami harus mewawancarai dia.

Dan di sanalah kami berada, pada hari selasa yang hujan itu pada akhir bulan Mei. Saat dia berhenti bermain dan mendekati kami, kami bertanya apakah dia punya waktu. Dia sangat senang karena dia berlari pulang dan mengganti pakaian lain saat kami memasuki ruang tamu di rumahnya. Kami duduk di depan jendela depan. Hal ini membuat mudah bagi anak-anak lain mengintip ke dalam rumah. Christi dan ibunya sangat senang karena kami ada di sana. Ibunya, satu-satunya orang di rumah pada waktu itu, memiliki senyuman di wajahnya dan menatap dengan bangga pada putrinya saat dia berbicara tentang orang tuanya dan hobinya. Hobinya, yang terutama terdiri dari bermain bulutangkis dan belajar bahasa Inggris. Lagu Inggris favoritnya adalah ‘one to one’. Lagu yang membuatnya merasa lebih dekat dengan bahasa Inggris dan merangkai senyum di wajahnya.

Dia belajar bahasa Inggris dari sebuah buku yang dia dapatkan setahun yang lalu dari ibunya. Sejak saat itu, dia menjadi yang terbaik di kelasnya dari kelas 1 sampai 4 (meskipun sekarang berada di kelas 5). Dia juga telah mengembangkan kecintaannya akan pekerjaan impiannya: menjadi guru bahasa Inggris di sekolah dasar di Kaibobo. Dia ingin mencapainya dengan menempuh SMA di Piru dan kuliah di Universitas di Ambon. Mudah-mudahan, itu bukan hanya satu-satunya kota yang dapat didatanginya. Dia ingin menjelajahi lebih banyak tempat di dunia, Inggris misalnya, untuk memperbaiki bahasa Inggrisnya. Tapi juga Yogjakarta untuk menjelajahi Borobudur. Tapi selain mimpi-mimpi ini, dia ingin membantu ibunya dirumah jika dibutuhkan. Saat dia menyebut ibunya ekspresi wajahnya berubah. Dia menatap kami dan ibunya. Ibunya masih berdiri di belakang kami. Ketika kami bertanya kepada Christi apa yang telah dia pelajari dari ibunya, dia pun berdiam. Dia memikirkan pertanyaan itu beberapa saat sebelum menjawab: "Ibuku mengajari saya bahwa kita harus bertindak sopan dan menghormati orang lain."