'Wanita Minyak kayu putih'

Dilbuat pada: 01-06-2017
Diterbitkan pada: 30-06-2017 
Ditulis oleh: Ingrid Bremmers

 

"Uang yang saya hasilkan akan dipakai untuk pendidikan anak-anak saya. Dengan itu saya berharap mereka bisa memiliki pendidikan yang lebih baik daripada saya."

Dimulai sama seperti saat kami melakukan wawancara dengan Rio: berjalan menuju sebuah tempat wawancara dengan dua orang dari pemerintah desa di depan kami dan keringat menetes di wajah kami. Tapi begitu kami memasuki jalan utama dan mendaki bukit kecil, suasana mulai berubah. Kami merasa seperti berada di bagian kota yang berbeda dimana hanya ada sedikit orang. Keheningan itu hadir. Kami perlahan-lahan mendekati pintu 'wanita minyak kayu putih', seorang wanita berusia tiga puluh lima tahun yang cantik dari Kaibobo. Begitu melihat kami melalui jendela, dia berjalan ke pintu. Dia menyambut kami sambil tersenyum dan membiarkan kami semua masuk ke rumahnya. Sebuah rumah yang ditinggalinya bersama dengan suami dan tiga anaknya. Sebuah rumah yang di chat berwarna hijau sehingga membuatku teringat bukit-bukit yang mengelilingi Kaibobo. Perbukitan yang dia sebut rumahnya. Tempat dimana ia tinggal selama enam hari dalam seminggu untuk bekerja di perkebunan suaminya. Dimana satu hari dalam seminggu dia mengumpulkan daun kayu putih bersama teman-temannya untuk dijual ke penyuling kayu putih di desa tersebut. Sesuatu yang telah dia lakukan sejak dia berusia empat belas tahun.

 

Saat itu dia harus bekerja karena kondisinya yang kurang baik dan dia harus membantu orang tuanya. Orang tua, yang dia berikan sebagian dari uang itu. Bagian yang lain diberikan ke seluruh keluarganya dan sisanya lagi disimpan untuk ditabung.

Sekarang situasinya berbeda. Dia menyukai pekerjaannya karena dia dapat membantu suaminya dalam hal keuangan dan dengan cara ini dia bisa mengelola keuangannya sendiri. Seperti sebelumnya, dia melakukan ini enam hari dalam seminggu sehingga dia bisa memberikan uang untuk keluarganya. Selama enam hari itu, anak-anaknya tinggal bersama keluarganya. Bayangkan apabila diri anda berada dalam situasi ini. Memberikan penghasilan untuk anak-anak anda hanya agar mereka bisa memiliki pendidikan yang lebih baik daripada yang dia dapatkan (dia hanya menyelesaikan sekolah menengah pertama). Ia berharap dengan adanya pendidikan ini, anak-anaknya menjadi guru.

Itulah yang ada dalam pikirannya saat membawa 30kg kayu putih di kepalanya saat berjalan tiga puluh menit kembali ke desa. Terdapat sebuah fakta sederhana di tengah wawancara ini: wanita disini membawa sesuatu di kepalanya, sedangkan pria membawanya di pundak mereka. Uang yang mereka kumpulkan, selain untuk keluarga mereka, juga untuk ke gereja. Gereja, tempat wanita kayu putih ini berdoa untuk masa depannya sama seperti situasi dia saat ini: mandiri dan bahagia. Bahagia karena "tinggal bersama suami dan anak saya sudah cukup."

* Dia lebih memilih untuk tidak disebutkan namanya.